
Di pesantren, santri belajar melalui keterangan yang didengar dan keteladanan yang disaksikan. Cara seorang ustadz menepati waktu, menyampaikan teguran, memperlakukan kitab, hingga menjawab pertanyaan turut membentuk pengalaman belajar mereka.
Karena itu, menjadi pendidik merupakan amanah yang perlu dirawat setiap hari. Ada pelajaran yang disampaikan melalui penjelasan panjang, ada pula yang membekas melalui sikap sederhana.
Uswah Dimulai dari Kebiasaan Sehari-hari
Datang tepat waktu dan menyiapkan pelajaran merupakan bentuk penghormatan terhadap ilmu serta waktu santri. Ketertiban pendidik membantu menumbuhkan kesungguhan dalam majelis belajar.
Keteladanan juga tampak ketika seorang ustadz menemukan kekeliruan dalam penjelasannya. Kesediaan memeriksa kembali rujukan, mengakui kekeliruan, dan memberikan pembetulan mengajarkan amanah ilmiah. Santri memperoleh contoh bahwa belajar menuntut ketelitian dan kerendahan hati.
Mengenal Santri dan Mendengarkan Kesulitannya
Setiap santri membawa kemampuan, kebiasaan, dan persoalan yang berbeda. Ada yang cepat memahami pelajaran, ada yang membutuhkan pengulangan. Ada pula yang tampak kurang bersemangat karena sedang menghadapi kesulitan yang belum mampu mereka ceritakan.
Mengenal nama santri dan menyimak penjelasannya dapat menjadi awal pendampingan. Dalam sorogan, setoran hafalan, maupun pembelajaran kelas, perhatian yang terarah membantu ustadz menentukan bimbingan yang sesuai.
Santri yang belum lancar membaca memerlukan latihan bertahap. Santri yang kesulitan menjaga hafalan membutuhkan penataan murajaah. Pendampingan akan lebih tepat apabila kesulitannya dikenali terlebih dahulu.
Tegas Menegakkan Adab, Santun Memberikan Teguran
Ketertiban belajar membutuhkan aturan yang jelas dan penerapan yang konsisten. Teguran hendaknya menerangkan letak kesalahan serta jalan memperbaikinya.
Ucapan yang merendahkan, ejekan terhadap kemampuan, atau membuka persoalan pribadi di hadapan teman-temannya dapat menghambat keberanian santri untuk belajar. Ketegasan perlu dijalankan dengan menjaga kehormatan mereka.
Demikian pula dengan humor. Candaan yang pantas dapat menghidupkan suasana mengaji, selama tetap menjaga adab dan tidak menjadikan kekurangan seseorang sebagai bahan tertawaan.
Menjaga Amanah dalam Pendampingan
Kepercayaan santri perlu dijaga. Persoalan pribadi yang mereka sampaikan hendaknya ditangani secara bijaksana, tanpa dijadikan bahan percakapan yang tidak berkepentingan.
Apabila persoalan menyangkut keselamatan atau membutuhkan penanganan lebih lanjut, ustadz perlu melibatkan pengasuh atau pihak yang berwenang dengan membatasi informasi sesuai kebutuhan pendampingan.
Kerja sama antara asatidz, pengurus, dan wali santri juga membantu menjaga kesinambungan pendidikan. Dengan komunikasi yang tertib, bimbingan dapat diberikan secara lebih utuh.
Muhasabah bagi Para Pendidik
Mutu mengajar perlu diperiksa melalui pertanyaan yang dekat dengan keseharian: sudahkah pelajaran disiapkan, penjelasan dapat dipahami, dan kesulitan santri ditindaklanjuti?
Muhasabah tersebut dapat menjadi awal perbaikan yang nyata. Pendidikan pesantren tumbuh melalui ilmu yang diajarkan dengan sungguh-sungguh, adab yang dicontohkan secara istikamah, serta perhatian yang menjaga semangat santri dalam menuntut ilmu.
Sumber inspirasi: materi “20 Ciri Guru Berkualitas” dari akun Instagram @ryan.oktapratama, berdasarkan gambar yang diterima redaksi. Tulisan dikembangkan dan disesuaikan dengan konteks pendidikan pesantren.
Keterangan gambar: Ilustrasi baru tentang pendampingan santri, dibuat dengan bantuan AI; bukan dokumentasi kegiatan.
- #Adab
- #Pendidikan Pesantren
- #Asatidz
- #Pendampingan Santri